Masjid Biru, Arsitektur Islam yang Indah

Masih tentang hikmah perjalanan dari Turki. Saya berkunjung ke sana pada Ahad, 9 Oktober 2016 lalu. Berkunjung ke Turki, rugi rasanya kalau tak melihat keindahan dan keunikan Blue Mosque atau Masjid Biru. Disebut biru karena masjid ini berhiaskan keramik-keramik berwarna biru yang menutupi dinding dan kubahnya.

Eiit, tapi jangan salah ya. Ini bukan Masjid Biru yang ada di dekat Ciawi Bogor. Di sana tampak juga masjid besar dan megah yang berwarna cat biru. Tentulah berbeda dengan Blue mosque ini.

Sejenak memandang masjid ini sangat indah dan teduh. Bangunan ini berada di Istanbul Turki dan dibangun oleh Sultan Ahmed I berasal dari Dinasti Ottoman yang menguasaiTurki pada abad ke-14. Sultan Ahmed I memerintah Turki mulai tahun 1603 – 1617. Konstruksi masjid mulai dibangun pada tahun 1609, oleh arsitek terkenal pada jaman itu, yaitu Mehmed Aga. Pada tahun 1616, masjid ini selesai dibangun.

Sultan Ahmed I membangun Masjid Biru untuk menandingi bangunan Hagia Sophia buatan Kaisar Byzantine yaitu Constantinople. Hagia Sophia berada satu blok dari Masjid Biru. Hagia Sophia dulunya adalah Gereja Byzantine sebelum jatuh ke daulah Turki Ottoman pada tahun 1453 M .

Kembali ke Masjid Biru yang elok nan rupawan ini. Ia memiliki 6 menara, diameter kubah 23,5 meter dengan tinggi kubah 43 meter, dan kolom beton berdiameter 5 meter. Masjid ini adalah satu dari dua buah masjid di Turki yang mempunyai enam menara, yang satu lagi berada di Adana.

Menurut legenda, Sultan Ahmed I meminta kepada Mehmed Aga untuk membuat menara yang terbuat dari emas. Kata emas dalam bahasa Turki adalah “altin”. Apa mau dikata, sang arsitek salah mendengar. Ia mengira Sultan Ahmed I ingin memiliki masjid dengan 6 menara. Kata enam dalam bahasa Turki bunyinya “alti” dan memang terdengar amat mirip dengan “altin”.

Akhirnya dibuatlah Blue Mosque dengan 6 menara, bukannya 4 menara yang terbuat dari emas. Tadinya Mehmed Aga mengira kepalanya akan dipenggal oleh Sultan Ahmed I, namun ketika selesai, konon Sultan Ahmed I justru terpukau dengan desain 6 menara yang unik itu.

Kabarnya, akibat jumlah menara yang sama dengan Masjidil Haram di Makkah saat itu, Sultan Ahmed I mendapat kritikan tajam sehingga akhirnya beliau menyumbangkan biaya pembuatan menara ketujuh untuk Masjidil Haram.

Yang menarik, sebuah rantai besi yang berat dipasang di atas pintu gerbang masjid sebelah barat. Di masa lalu, hanya Sultan Ahmed I yang boleh memasuki halaman masjid dengan mengendarai kuda, dan rantai ini dipasang agar Sultan Ahmed I menundukkan kepalanya saat melintas masuk agar tidak terantuk rantai tersebut. Ini dimaksudkan sebagai simbol kerendahan hati penguasa di hadapan kekuasaan Ilahi.

Tidak jauh dari Masjid Biru, terdapat museum Aya Sofya. Selain terkenal dengan keindahan arsitekturnya, Aya Sofya pertama dibangun sebagai katedral, lalu diubah menjadi masjid selama 500 tahun dan sejak pemerintahan sekuler Republik Turki menjadi museum sampai saat ini. Belum lagi istana Topkapi yang menyimpan beberapa peninggalan Rasulullah saw.

Masjid Biru, hingga kini, masih berfungsi sebagai tempat ibadah. Masuk dalam kompleks masjid terbesar di Istanbul ini, kita melewati taman bunga yang dilindungi pepohonan yang rindang. Sebuah tempat wudhu berderet di sisi depan masjid menyambut kita sebelum memasuki bagian dalam kompleks masjid.

Untuk menghormati masjid, wisatawan harus berpakaian sopan saat memasuki ruang masjid. Wanita harus mengenakan kerudung. Penjaga selalu siap mengingatkan di depan pintu masuk. Begitu sampai di dalam, sejumlah tamu Muslim melakukan shalat sunah masjid. Sementara sebagian lain memandang masjid dari bagian shaf belakang. Sebab, bagian depan hanya diperkenankan bagi mereka yang hendak bershalat.

Dari luar, tampaknya tak ada alasan karya arsitek Mehmed Aga yang dibangun pada 1609-1616 ini disebut dengan nama Masjid Biru. Barulah setelah kita masuk ke dalam, tampak bahwa interior masjid ini dihiasi 20.000 keping keramik biru yang diambil dari tempat kerajinan keramik terbaik di daerah Iznik . Kawasan Turki yang terkenal menghasilkan keramik nomor wahid berwarna biru, hijau, ungu, dan putih.

Karpet sutera yang menutup lantai masjid berasal dari tempat pemintalan sutera terbaik dan lampu-lampu minyak yang terbuat dari kristal merupakan produk impor. Banyak terdapat barang-barang dan hadiah berharga di masjid ini, termasuk Al Quran bertuliskan tangan. Keramik yang menghiasi dinding masjid bermotifkan daun, tulip, mawar, anggur, bunga delima atau motif-motif geometris. Terdapat 260 jendela di dalam masjid ini, sehingga bila kita berada didalamnya, suasananya teduh dan sejuk.

masjid-biru2Elemen penting dalam masjid ini adalah mihrab yang terbuat dari marmer yang dipahat dengan hiasan stalaktit dan panel incritive dobel di atasnya. Tembok disekitarnya dipenuhi dengan keramik. Masjid ini didesain agar dalam kondisi yang paling penuh sekalipun, semua yang ada di masjid tetap dapat melihat dan mendengar Imam.

Masjid Biru merupakan adalah salah satu masterpiece arsitektur peradaban Islam. Para pengunjung yang beritikaf Ramadan atau turis yang sholat dan memperhatikan interior masjid akan kagum dengan kubah yang tidak pernah ada jaring laba-labanya.

Lazimnya di gedung-gedung tinggi biasa ditemukan jaring laba-laba yang lama-lama akan mengotori langit-langit ruangan. Tapi hal itu tak terjadi di dalam ruangan Masjid Biru. Ternyata hal itu ada rahasianya.

masjid-biru1Rupanya para arsitek yang membangun masjid itu antara tahun 1609 dan 1616 punya resep jitu untuk mengusir sarang laba-laba, yakni telur burung unta. Tepat di tengah kubah terbesar yang berdiameter 24 meter, menjuntai rantai panjang. Tiga meter dari titik tengah kubah terdapat chandeliers berbentuk segitiga tempat meletakkan telur unta di ketiga sudutnya. Tampaknya, telur burung unta mempunyai kandungan zat tertentu yang aromanya tak disukai laba-laba.

Menurut sejarah, arsitektur masjid-masjid di Turki mengikuti dua gaya, yaitu gaya arsitektur Saljuq dan Turki Utsmani. Nah, Masjid Biru mengikuti gaya arsitektur Turki Utsmani.


Teman-teman apa yang bisa kita petik dari tulisan di atas?

Kita sebagai seorang guru hendaklah memiliki sifat seperti masjid. Kita jadikan masjid sebagai model pembinaan keluarga guru di rumah tangganya masing-masing. Memang ada apa dengan model keluarga masjid? Masjid adalah tempat untuk beribadah. Maka disana terdapat nilai-nilai yang sangat tinggi yakni :

  • Pertama, ketulusan. Sebelum sholat kita berwudhu, kita berwudhu bersama. Kita basuh muka dan tangan kita, kita basuh kaki, kepala, telinga. Kita juga berkumur-kumur semuanya bertujuan untuk kebersihan hati, ketulusan jiwa. Kebersihan hati dan ketulusan jiwa merupakan modal penting dalam membina rumah tangga yang tidak pernah mengenal kata pensiun itu.
  • Kedua, terdapat imam dan makmum. Dalam rumah tangga ini imam adalah suami, sedangkan makmum adalah istri dan anak-anaknya. Ketika imam rukuk, maka istri dan anak-anaknya juga rukuk bersama. Sebagai makmum, ia harus mengikuti gerakan imam. Bila makmum mendahului gerakan imam, bisa-bisa sholatnya tidak sah. Artinya, istri yang taat adalah mengikuti ketaatan apa kata suami selama sang suami juga taat pada Islam.
  • Ketiga, Loyalitas. Kesetiaan mutlak dari istri kepada suami, kecuali terdapat penyimpangan. Suami yang taat pada Allah akan membimbing istri dan anak-anaknya kea rah ketaatan pada Allah SWT juga.
  • Keempat, Sholat diakhiri dengan salam. Salam ke kanan dan ke kiri. Aktivitas dalam rumah tangga ada keselamatan, ketenangan dan kedamaian senantiasa menghiasi rumah tangga model ini. Bukan keresahan, bukan konflik atau bahkan baku hantam.

Para guru tentu berusaha menjadikan model masjid sebagai model rumah tangganya. Terlebih lagi para guru mengingat akan Surat At-Thur ayat 21. Mereka akan senantiasa berharap dapat berkumpul kembali seperti dalam QS At Thur : 21

Dan orang-orang yang beriman, serta anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya”

Dalam tafsir Ibnu Katsir, beliau menafsirkan ayat di atas sebagai berikut “Allah SWT memberitahukan tentang karunia, pemberian, anugrah dan kasih sayang-Nya kepada makhluk-Nya serta kebaikan Allah SWT kepada mereka: Apabila orang-orang yang beriman diikuti oleh keluarga-keluarga mereka dengan keimanan maka mereka akan mengikuti bapak-bapak mereka dalam tingkatan surga, sekalipun amal-amal mereka tidak sampai pada tingkatan tersebut agar bapak-bapak mereka merasa senang dengan keberadaan anak-anak mereka bersama mereka pada tingkatan yang sama, Allah SWT akan mengumpulkan mereka dengan wajah yang paling baik, Allah SWT mengangkat orang yang kurang amal shalehnya dengan mereka yang amalanya sempurna dan tidak mengurangi dari jumlah amal mereka sedikitpun dan tidak pula tingkatan mereka, agar tingkatan mereka menjadi sama antara dirinya dengan yang lain”

Selanjutnya, Ibnu Katsir berkata, “Ini adalah karunia Allah Ta’ala kepada anak-anak karena keberkahan amal bapak-bapak mereka. Adapun karunia Allah SWT bagi anak-anak untuk bapak-bapak mereka karena do’a anak-anak mereka adalah, seperti apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam musnadnya dari hadits Abi Hurairah RA bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah SWT mengangkat derajat seorang hamba yang shaleh di dalam surga, dan hamba itu bertanya: Wahai Tuhanku bagaimana aku bisa mendapatkan derajat ini?. Maka Allah berfirman: Karena istighfar anakmu bagimu”

 

Sumber :

  1. http://www.caramudahkebaitullah.com/2012/02/sejarah-masjid-biru-istanbul-turki.html
  2. http://travel.detik.com/read/2015/06/22/074550/2948307/1520/rahasia-di-kubah-masjid-biru-istanbul
  3. Reza M Syarief, Life Excellent
  4. Tafsir Ibnu Katsir: 4/241

 

Suhartono, M.Pd., Ketua Departemen Pembinaan Siswa JSIT Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*