Nikmatnya Sop dan Sate Rusa.., Nikmatnya Dakwah

Waktu menunjukkan jam 12.30 Waktu Indonesia bagian Timur. Ya..bedanya 2 jam lebih cepat dari Jakarta atau waktu Indonesia bagian barat. Setelah mengisi parenting bagi 200 orang tua murid di SDIT Insan Cendekia Papua, tibalah waktunya untuk makan siang.

Sang driver, Pak Widodo namanya, bertanya, “Pak mau makan ikan bakar atau ikan panggang?” saya jawab ikan bakar saja. Pria yang baru saja menikah ini lalu mengajak saya ke lokasi di depan Mall Borobudur dekat Permukiman Trans Jayapura. Sesampai area parker, lalu saya lihat ada warung kaki lima. Sederhana tempatnya. Namanya Warung Genah Rasa. Saya bilang” Akhi, ke warung ini saja. Tidak jadi ke ikan bakar.” Kenapa ustad? “Ini ada sate dan sop rusa. Sudah lama saya tidak makan. Terakhir saya makan 1 tahun yang lalu di Riau.”

Pak Widodo pria yang sejak tahun 1993 ini di Papua mendampingi saya untuk memesan menu. “Assalamu’alaikum”, saya ucapkan. Sang pelayan, seorang bapak paruh baya menjawab dan mempersilahkan saya masuk.

Lalu saya pesan, satu rusa 1 porsi dan sop rusanya dua porsi ya pak. Pak Widodo, rekan saya ini, lalu izin untuk sholat zuhur dulu. Sementara saya menundanya karena memang lapar. Daripada sholat ingat makan, lebih baik makan dulu baru ingat sholat, begitu pikir saya.

Tak berapa lam, menupun hadir. Saya kemudian menyantapnya. Tidak lupa selfi dulu untuk mengabadikan menu yang belum pernah saya makan, sop rusa.

Hm..nikmat betul rasanya. Berkuah dan daging rusanya empuk. Lezat. Apalagi ditambah dengan sate rusanya yang terasa beda dengan sate-sate yang pernah saya rasakan. Sate kambing, sate ayam, atau sate maranggi yang bahan dasarnya daging sapi.

Alhamdulillah, tidak berapa lama saya makan, habis sudah sop dan sate rusa itu. Terasa betul nikmatnya. Saya kepengen bawa 1 kilo daging rusa ke rumah buat oleh-oleh. Ternyata menurut padagangnya tidak bisa, kecuali beli dulu 1 ekor rusa. “Rusanya dari mana Pak?”,tanya saya. “Rusanya dari Merauke. Harganya bisa 3 juta atau 2.5 juta per ekor.” Lalu pria yang berasal dari Jawa Tengah ini melanjutkan, “ Bapak, kalo mau pesan, perlu 1 hari. Nanti beli 1 ekor lalu dibagi-bagi perkilo begitu.” “Wah sayang, besok Ahad, 6 November 2016 saya pulang. Rasanya tak mungkin”. Akhirnya, tidak jadi saya pesan.  Saya pun menutup aktivitas makan dengan doa yang diajarkan Rasul kita.

slide2
Menu Kapurung

Nikmatnya makan sop dan sate rusa, saya jadi ingat juga sehari sebelumnya di Timika. Tepatnya di Sekolah Islam Terpadu Permata Papua. Setelah melakukan asesmen, saya dan rekan saya, Pak Fahmi Zul disajikan karaka dan kapurung. Di sana ada karaka atau kepiting yang amat banyak. Dipadu dengan bumbu pedas dan potongan-potongan kepiting, terasa mengundang selera. Rupanya karaka adalah salah satu kuliner khas di Timika. Ditambah kapurung. Kalau belum makan kapurung, belum sah ke Timika. Begitu kata Hj Witri, kepala SDIT Permata Papua. Kapurung adalah menu campuran antara sagu atau papeda dengan kangkung yang dipotong kecil-kecil dan satu lagi…saya lupa. Hmm nikmatnya.

Sungguh saya merasakan nikmatnya dakwah seperti nikmatnya makan sop dan sate rusa serta karaka dengan kapurungnya.


Teman-teman guru Sekolah Islam Terpadu, bagaimana caranya merasakan nikmatnya makan sop dan sate rusa seperti nikmatnya berdakwah? Mungkin di antara teman-teman ada yang bertanya atau berpikir demikian.

Sesuatu pengalaman yang baru mencerminkan kenikmatan tersendiri. Rasanya akan berbeda dengan yang belum merasakan. Begitupun dengan saya. Nikmatnya dakwah itu akan membawa keberkahan tersendiri. Perjalanan panjang akan terasa indah. Kelelahan setelah bertugas akan terasa menjadi harapan agar Allah SWT menerima amalan kita. Dan satu lagi..ada harapan agar apa yang kita isi dalam training, ilmu dan sharing pengalaman yang dimiliki, dapat diterima peserta dan menjadi bahan untuk mereka praktekkan dalam kehidupan di rumah dan di sekolah tempat bekerja.

Agar setiap aktivitas kita terasa nikmat bahkan nikmatnya terasa sebagai bagian dari dakwah, teman-teman guru perlu menjadikan dakwah kita di dunia pendidikan sebagai bagian dari jihad atau kesungguhan kita. Tanamkan dalam diri bahwa  :

  1. Dakwah adalah Rahmat; maka aku berdakwah tulus penuh syukur pada Allah SWT,
  2. Dakwah adalah Amanah; maka aku berdakwah benar penuh tanggungjawab,
  3. Dakwah adalah Panggilan; maka aku berdakwah tuntas penuh integritas,
  4. Dakwah adalah Aktualisasi; maka aku berdakwah penuh semangat,
  5. Dakwah adalah Ibadah; maka aku berdakwah serius penuh rasa kecintaan,
  6. Dakwah adalah Seni; maka aku berdakwah cerdas penuh kretivitas,
  7. Dakwah adalah Kehormatan; maka aku berdakwah tekun penuh keunggulan,
  8. Dakwah adalah Pelayanan; maka aku berdakwah paripurna penuh kerendahan hati.

Semua aktivitas yang delapan di atas itu merupakan cerminan dari Rasululloh dalam berdakwah.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

“Dan tidaklah kami mengutus kamu (wahai Muhammad) melainkan sebagai rahmat (kasih) bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiyā`: 107).

Rasulullah diutus dimuka bumi ini dengan mengemban amanah dari Allah untuk mendakwahkan agar manusia menyembah hanya kepada Allah. Dalam ayat diatas Allah kemudian menyampaikan bahwa Rasul membawah rahmat(kasih). maka sepantasnyalah orang-orang yang berkecimpung dalam dunia dakwah untuk berdakwah tulus dan bersyukur kepada Allah.

slide3
Tugu Danau Sentani, Jayapura

Bayangkan jika semua guru SIT mengedepankan aktivitas kerjanya sebagai dakwah maka akan terasa nikmat. Mengapa ? aktivitas guru sangat dekat dengan dakwah. Jika kita melihat pengertian guru dalam UU no 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen, pasal  1 ayat 1, “Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. “ Jadi 7 tugas utama guru amatlah dekat dengan dakwah. Sayang sekali jika  tidak diframe atau diniatkan untuk kepentingan dakwah.  Yang ada aktivitas kita akan kering dari ruhnya dakwah. (Papua, 6 November 2016)

Suhartono, M.Pd. Ketua Departemen Pembinaan Siswa JSIT Indonesia

 

Sumber :

  1. UU No 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen
  2. http://muhammadasfar.blogspot.co.id/2009/10/8-etos-dakwah-profesional.html

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*