Lokakarya Program Pendidikan Inklusi di Sekolah Islam Terpadu

Depok – Keberadaan organisasi yang menunjukkan perhatian serius pada pengembangan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dan masyarakat difable (different Ability lainnya, sudah menjadi kebutuhan mendesak untuk ditunaikan segera. Bertambahnya jumlah ABK dan Difable yang semakin banyak.  Konsekuensi era digital yang melahirkan satu sisi negatif yakni kecanduan gawai, memunculkan anak2 narkolema (narkotika lewat mata).  Bencana yang datang silih berganti, membuat trauma panjang bagi nak-anak khususnya.  Baik narkolema maupun anak-anak korban bencana menjadi menambah deret anak yang beresiko memiliki kebutuhan khusus atau yang dikenal dengan istilah Students at Risk.  Hal ini semakin  membutuhkan perhatian serius dan lebih terfokus, hingga mereka mampu berdaya bahkan menghasilkan produktivitas yang bermakna.

Belum lagi jika mengacu pada kajian beberapa ayat Al Quran.  Sebagaimana yang dikisahkan dalam surat Abasa.  Kala Rosululloh SAW ditegur karena bermuka masam pada sahabat yang tuna netra ketika ia hendak  menuntut ilmu.  Padahal si buta tentu tak melihat wajah masam tersebut, pasti sarat hikmah dbalik teguran ini. Dan sangat wajar kala itu Sang Rosul Mulia sedang begitu sibuknya mengedukasi para pemuka adat. Salah satu hikmah atas teguran ini, tentu bukan karena Rosul yang maksum berbuat khilaf karena Rosul pun tidak dikisahkan menolak, hanya memperlihatkan wajah yang tidak seperti biasa. Pelajaran yang dapat dipetik di antaranya dalam dunia pendidikan,  yakni dengan tangan terbuka menerima siapa saja untuk dapat mendapatkan hak asainya belajar.

Perhatian yang diberikan pada ABK dan Difable  tentunya akan berimbas pada kesejahteraan mereka secara individual, yang juga berpengaruh terhadap produktivitas dalam skup yang lebih meluas, hingga ke produktivitas bangsa. Harapan terhadap tumbuhnya kemampuan pada ABK dan Difable nampaknya belum banyak terfasilitasi hingga saat ini, meski perhatian pemerintah dan stakeholder lainnya secara perlahan sudah menunjukkan perhatian yang lebih serius untuk mengembangkan mereka, salah satunya melalui turunnya kebijakan konsep pendidikan inklusif di sekolah yang wajib dilaksanakan di seluruh sekolah di ibukota dan beberapa daerah yang ditunjuk.

Segala bentuk perhatian yang diberikan pemerintah dan stakeholder pastinya tidak akan pernah memadai tanpa kontribusi banyak pihak utuk mengambil peran strategis sebagai perpanjangan pemerintah untuk mempercepat dan menigkatkan kualitas layanan pada ABK dan Difable. Untuk itulah, sebagaimana arahan Ketua Umum JSIT Indonesia M. Zahri, M.Pd yang disampaikan pada Lokakarya Program Inklusi di Sekolah Islam Terpadu menyatakan; “ Kita coba mengisi ruang kosong yang dibutuhkan masyarakat yang selama ini sudah sering kita bioncangkan namun belum ditekuni”.  Melalui pembentukan divisi baru di bawah departemen penjaminan mutu JSIT Indosesia inilah diharapkan ruang kosong itu perlahan terisi.

Arah program yang menajdi fokus kerja komunitas ini mencakup dua bentuk layanan kerja :

  1. Pendampingan langsung berupa consulting, coaching, mentoring, counseling yang ditujukan kepada SIT, sekolah umum, komunitas dan institusi pendidikan lainnya.
  2. Pendampingan tidak langsung berupa serangkaian kegiatan seperti seminar, pelatihan, workshop, study kasus, simulasi, dll

Adapun bentuk yang menjadi aspek fokus garapan kerja komunitas adalah sebagai berikut :

No Aspek Program
1 Konsep dan Filosofi Kajian jurnal, action reasech, kajian ahli, FGD, avidance based, dll
2 Assessment tools and Diagnosis Koleksi  dan update assessment tools, pembuatan assessment tools, penegakan diagnosa,  kebutuhan, rancangan program individual, deteksi tumbang, maturty chek up, abnormality chek up, dll
3 Managemen and Intervention :
a.    Individual Intervention Okupasi therapi, terapi wicara, terapi sensori integrasi, terapi perilaku, psikoterapi, konseling ABK,
b.    Comunity/Group Intervention Edukasi, seminar, pelatihan, workshop, LGD, FGD, braindstorming, problem solving, plan making, counseling group, family therapy, speccial need teaching, dll
c.     System Intervention Building network, pengembangan institusi (meliputi : analisa struktur organisasi, visi dan tujuan organisasi, kepemimpinan, job des, cultural work, SOP layanan, dll),

 

Pada kesempatan pertama, Divisi Pendidikan Inklusif yang diketuai oleh Dr.Yessy Yanita Sari, M.Pd menggelar Lokakarya Program Pendidikan Inklusi di Sekolah Islam Terpadu. Kehiatan yang dilakukan selama 3 hari ini, 28-30 September bertempat di Pusdiklat JSIT Indonesia yang berdomisili di Cimanggis Depok. Dihadiri oleh 33 peserta dari hampir seluruh wilayah di Indonesia yang mewakili pulau Jawa, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Sumatera dan P eserta kegiatan adalah Pimpinan Sekolah atau yang menangani program pendidikan inklusi di Sekolah Islam Terpadu dengan ketentuan sbb :

  1. Telah menjalankan program pendidikan inklusi di atas 5 tahun
  2. Telah mendapatkan surat ijin dan atau surat keterangan sebagai pelaksana pendidikan inklusi dari Dikbud Kabupaten
  3. Telah memiliki mekanisme dan struktur pengelolaan program inklusi di sekolah
  4. Telah memiliki SDM yang secara khusus mengembangkan layanan program pendidikan inklusi
  5. Telah memiliki alur sistem dan pendokumentasian yang cukup baik dalam pengelolaan program sekolah inklusi

Jika di sebuah wilayah tidak ada sekolah yang memenuhi kualifikasi tersebut secara sempurna, tetap dapat mengikuti kegiatan sebagai perwakilan wilayah.  Hal ini dipandang penting agar dalam lokakarya ini didapatkan potret kondisi sekolah di berbagai wilayah dengan kekhasan budaya dan kondisinya.

Lokakarya ini bertujuan menyiapkan konsep pendidikan inklusif khas SIT, melalui kajian teoritis dan konseptual disempurnakan dengan realita berdasarkan pengalaman best practice di SIT.  Ada 3 tema besar yang dibersamai oleh  3 nara sumber yang juga merupakan anggota divisi pendidikan inklusif JSIT, yakni : Dr. Yessy Yanita Sari, M.Pd yang mengupas tentang Manajemen Pendidikan Inklusif, Yull Chaidir, M.Psi, Psi membahas tentang Asesmen Kekhususan Peserta Didik dan Dr. Santi Tjahjadini, S.Psi, M.Pd yang menjabarkan tentang Strategi Intervensi ABK. Sesi awal berupa paparan ketiga tema tersebut, selanjutnya dilakukan Form Group Discussion dengan membagi ke dalam 3 kelompok tema.

Hasil lokakarya ini menjadi draft acuan penyusunan buku panduan dan modul konsep pendidikan inklusif SIT yang menjadi bagian dari Rencana Tindak Lanjut (RTL). Buku Panduan dan Modul inilah yang akan  menjadi alternatif solusi terhadap permasalahan penerapan konsep pendidikan inklusi di SIT. Melalui TFT, Pelatihan maupun Workshop, diharapkan edukasi tentang pendidikan inklusif akan secara masif dan komperhensif dapat dilakukan di seluruh wilayah. Pendidikan inklusif buan semata melayani ABK, namun sejatinya menjadikan lembaga pendidikan yang ramah melayani semua peserta didik yang sesungguhnya tak ada satu pun yang identik sama, mereka unik, mereka istimewa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*