Terpadu, Ilman wa Ruuhan

Alhamdulillah, washolatu wassalaamu ‘ala Rasulillah.

Pada dasarnya tak ada metode yang lebih baik. Kita belajar dari metode Al Qoidah Al Baghdadi yah yang mendunia, kita juga nerasakan. Sederhana tapi banyak menghasilkan orang yang interaksi dengan Al Qur’an. Tak dikenal siapa pembuatnya, tak pernah terdengar ribut dengan metode ini, baik metode atau pelatihannya. Intinya ada pada istimroriyah dalam interaksi dengan Al Qur’an. Yang kita inginkan bukan kita dikenal saat tampil melatih, bukan sebagai pakar metode, akan tapi pakar Ruhul Qur’an, bukan buruh atau pekerja Qur’an, tetapi khodimul Qur’an, pelayan Al Qur’an.

Orang yang jauh dari Qur’an seperti makhluk yang mati, seperti dalam Surat Al An’am, halaman kedua juz 8, kita dipilih oleh Allah menjadi pelayan Al Qur’an. Ini adalah taqdir Allah sebagai Khodim quran. Ini adalah Rizqi min haitsu la yahtasib, karena kita sejak awal tak punya cita-cita jadi pengajar Al Qur’an. Kita jadikan pilihan Allah sebagai pilihan yang sebaik -baiknya, jadi penghidup ummat dengan Al Qur’an.

Bagaimana menjadikan Al-Qur’an sebagai ruh, sebagaimana firman Allah

وكذالك أوحينا إليك روحا –

-begitulah kami wahyukan kepadamu ruh (Qur’an)-.

 

Kita belajar dari Surat ‘abasa dengan sebutan Al a’ma, terhadap Abdullah bin Umi Maktum. Bukan sebutan sohibuhu atau yang lainnya, tapi pada kekurangannya, karena ada kekuatan ruhiyah yang sangat luar biasa, kekuatan yazzakka ( menjadikan teguran Al Qur’an), bahkan dalam surat an-nisa, beliau tetap akan berjihad, dalam hadits beliau selalu semangat solat di masjid, karena beliau memiliki azimah yang kuat sehingga bisa mengalahkan rukhsoh

Ada 3 sikap utama yang terlihat dari mereka yang hidup hatinya dengan Al Qur’an
1. Keyakinan terhadap amal perbuatan apa saja untuk dilaksanakan, walaupun bagi orang lain tak terjangkau,
2. Selesai dari masalah jiwanya, sehingga tak diberatkan dengan pribadinya sendiri
3. Tak menyerah dengan rukhsoh. Malu kalau malam-malam gak mau ngalah dengan Allah untuk qiyamullail dan diberatkan dengan tidur.

Begitu juga dengan Ummu Haram binti milhan, memergoki rasul senyum setelah bangun tidur, ternyata beliau bermimpi punya pasukan angkatan laut. Dengan yakin Umi Haram minta dimasukan dalam pasukan itu, dan terjadi pada zaman Utsman bin Affan dalam perang Dzatus Showari ia menjadi bagian pasukan laut serta menjadi Syahidah bersama suaminya Ubadah bin Shomit

Kita berdoa menjadi orang yang intensif dengan Qur’an, syumuliyyatut ta’amul – baca hapal amal tadabbur dan mendakwahi Al Qur’an, dimulai dari mana mulainya? Dari tayassaro minhu (yang mudah).
Masa niat aja gak mau untuk menghapal, kita harus merasa optimis secara integral interaksi dengan Al Quran

Rasulullah mengajarkan doa pada kita

“Allahumma inni audzubika min Syarri nafsi”

Ya Allah aku berlindung dari keburukan diriku

 

Dengan begitu kita bisa menjadikan Ruhul Qur’an dalam diri kita

Allahu A’lam

 

28/2/2020

Mfrq

Disarikan dari Taujih ust Abdul Aziz Abdur Ra’uf di Sekretariat JSIT Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*