Membangunkan Karakter Mulia Ananda melalui Belajar Dari Rumah (BDR)

Selalu ada hikmah di setiap musibah. Bersama kesulitan ada kemudahan (QS.94:5), ayat ini perlu kita renungkan berulang untuk menyemangati diri dalam berbagai kondisi, khususnya situasi tak menentu pada masa pandemi ini. Selain itu, membuat kita berusaha mencari hal positif di antara duka. Memunculkan banyak hal positif dan senantiasa berprasangaka baik kepada_Nya akan menjaga kesehatan mental kita dan imunitas tubuh kita, selain meningkatkan iman dan taqwa, tentunya.

 

Satu hal yang bisa kita manfaatkan dalam situasi pandemi ini, di mana anak-anak masih belajar dari rumah adalah peluang yang Alloh SWT berikan bagi Ayah Bunda untuk bisa membersamai pendidikan ananda secara fisik dan psikis. Berkumpulnya seluruh anggota keluarga, kita manfaatkan sebaik-baiknya untuk membangunkan karakter mulia anak kita. Hal-hal yang bisa kita lakukan adalah:

 

Keteladanan

 

Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa children see children do. Anak akan belajar dari apa yang mereka lihat. Sepanjang semua berkumpul di rumah, orang tua punya banyak kesempatan mempertontonkan kebaikan-kebaikan kepada anak-anak.  Dari sisi spiritual, dalam musibah tentu banyak mengingatkan kita untuk lebih bertaqwa. Ayah Buda tentu akan meningkatkan ibadah dalam situasi ini. Pendapatan boleh berkurang karena krisis namun iman jangan sampai berkurang, sebaliknya harus ditingkatkan agar Alloh SWT segera mengabulkan segala pinta. Berbagai ibadah yang Ayah Bunda lakukan, upayakan diketahui anak anak dan bahkan mereka dilibatkan di dalamnya. Dari sisi kesehatan, Ayah Bunda pastikan menjadi contoh disiplin berolahraga dan berjemur tiap pagi secara rutin. Dari sisi pendidikan Ayah Bunda juga memperlihatkan sebagai seorang pembelajar sejati, membaca buku misalnya.

 

Jika Pendidik (Orang tua dan Guru) menginginkan anak baik, maka ia harus baik terlebih dahulu, karena anak lebih mudah meniru apa yang dicontohkan daripada melakukan apa yang dinasehatkan. (QS. As-Saff : 3)

 

 

 

Pembiasaan

 

Kesempatan membersamai ananda saat ini kembali diperpanjang mungkin hingga akhir tahun ini, wallohu a’lam, semoga Alloh SWT mempercepat selesainya ujian ini bagi kita semua, dan mendapat predikat lulus karena mampu melalui ujian dengan tetap dalam kesabaran dan keimanan. Setidaknya sudah 4 bulan  lebih kita membersamai penuh anak-anak di rumah, dan mungkin akan bertambah 4 hingga 5 bulan ke depan atau lebih. Jika kita mencermati teori perilaku, seorang anak akan mulai otomatis berperilaku baik, misalnya merapikan tempat tidurnya sendiri, jika secara terus menerus selama minimal 21 kali ia dilatih. Tiga pekan sudah cukup membangun kebiasaan baik seorang anak. Kondisi saat ini di mana seluruh keluarga berkumpul dan orangtua punya waktu lebih banyak membersamai, artinya orangtua dapat menerapkan disiplin untuk anak-anak. Penerapan disiplin tidak identik dengan sekedar aturan kaku yang mengikat dan bersifat instruktif.  Penerapan disiplin diawali dengan memahamkan semua anggota keluarga akan pentingnya perilaku baik dan manfaat dari berperilaku baik yang sedang ingin kita terapkan.  Setelah pemahaman tersebut, barulah dilakukan pembiasaan.

 

Perhatikan hadits Rosul : ajarkan anakmu sholat di usia 7 tahun, lalu boleh pukul di usia 10 th. (HR.Ahmad dalam Shahih Al-Jami’ush Shagir no.5744). Mengapa 7 tahun bukan 3 tahun? Karena memasuki usia 7 tahun nalar makin berkembang sempurna. Shollu “alannabiy, Rosul telah paham psikologi perkembangan jauh sebelum konsep tersebut populer mulai abad ke 19. 10 tahun dipukul? Ya, tapi dengan syarat dan ketentuan berlaku. Perhatikan prosesnya, selama 3 tahun anak dibiasakan dan dilatih, 5 x sehari sholat wajib x 3 tahun, setidaknya tidak kurang dari 4500x latihan. Ilustrasinya saat ke 4501 x  tidak sholat baru boleh dipukul. Jadi pemukulan itu rasanya takkan terjadi jika orantua memberi kesempatan anak terbiasa dan terlatih, bukan sekali nasehat simsalabim anak berubah.

 

Pemahaman

 

Seorang anak yang dibiasakan terus menerus, akan secara otomatis melakukan hal yang dibiasakan tersebut. Namun, spontanitas tanpa dilahirkan dari pemahaman akan rentan.  Yang pertama, ia akan melakukan hanya jika ada pada kondisi yang sama, misalnya: jika ada orang tuanya saja, ketika tak ada maka ia merasa tak perlu melakukannya. Ia akan bersemangat jika ada hadiah yang dijanjikan, kalau tidak ada hadiah artinya tak perlu dilakukan. Kedua, yang dilakukan hanya sebatas pengulangan tanpa pemaknaan bak robot yang digerakkan mesin bukan jiwa. Untuk itulah, pembiasaan harus diawali dan dibekali dengan pemahaman, Mengapa saya harus melakukan itu?

 

Jika anak paham kemengapaannya, maka ia akan mengerjakan sesuatu dengan dasar ilmu. Ilmu sebelum amal. Beramal dengan landasan ilmu, akan menghadirkan motivasi dari diri sendiri (intrinsik). Anak yang punya motivasi diri yang baik, ia akan berusaha untuk melakukan hal baik. Untuk anak usia SD ke atas kemengapaan dulu atau ilmu sebelum amal, pastikan mereka paham mengapa saya harus begini begitu, mengapa harus cuci tangan, ada apa dengan cuci tangan.  Memahami hikmah akan sebuah amal akan menghadirkan rasa dan memunculkan niat  (motivasi intrinsik). Dibiasakan saja tanpa paham melahirkan robot, atau anak baik hanya secara kondisional yang artinya belumlah dapat disebut berkarakter. Karakter itu mengakar dan spontan.

 

 

Membangun Sistem

 

Manusia tempatnya salah dan lupa, perlu manusia lainnya untuk saling mengingatkan. Salah satu cara efektif untuk mengawal sekaligus mengontrol perilaku manusia adalah dibangunnya sistem.  Adanya sistem akan mempermudah tercapainya tujuan, karena ada kerjasama di dalamnya antar semua unsur dan perangkat yang disiapkan. Ketika perilaku yang sudah dicontohkan, dipahamkan dan dibiasakan tak muncul juga menjadi karakter, boleh jadi karena tak ada aturan yang melengkapi.

 

Manusia dewasa pun butuh sistem untuk mengingatkan dan konsisten. Iman naik turun, kita butuh lingkungan untuk saling mengingatkan. Salih saja tidak cukup, karena baik sendirian itu lelah, karenanya menjadi Muslih (membuat orang lain ikut salih) adalah kesinambungan dari capaian kesalihan. Bangun sistem di mulai dari rumah insya Alloh menyebar ke masyarakat. Mari bersinergi ! (QS. As-Saff : 4)

 

 

Oleh: Yessy Yanita Sari

Pengurus JSIT Pusat, Dosen Pasca Sarjana UHAMKA, Penulis Buku  Membidik Karakter Hebat dan 13 Pelangi Cinta serta Inovator Aplikasi Pendiikan Karakter : Parents UP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*